Minggu, 04 Mei 2014



Melanjutkan kuliah ke luar negeri, tak selalu menguras banyak biaya. Kalau tak percaya atau penasaran, cobalah datang ke Euro Management Indonesia di Gedung Jaya Lt. 7 Jl. M.H. Thamrin No. 12 Jakarta.

Mau kuliah ke luar negeri, tapi dana pas-pasan. Jangan khawatir, ada jalan keluarnya. Tentu asal tahu cara dan ke negara mana yang akan dituju. Kalau meneruskan kuliah ke Amerika, Australia, Jepang, Inggris, Belanda, Singapura, Malaysia dan lainnya sudah pasti minta ampun mahalnya.

Anggaran awal yang telah disiapkan bisa-bisa jebol di tengah jalan. Bukan cuma karena biaya kuliahnya mahal, tapi living cost (biaya hidup) di negeri tersebut juga tidak ada yang murah. Apalagi negeri Paman Sam, Amerika yang semuanya harus ditebus dengan dollar AS. Itulah makanya, kebanyakan mahasiswa Indonesia yang bertahan hingga selesai disana, rata-rata kalau bukan dari kalangan anak orang kaya raya, biasanya karena dapat beasiswa. Karena itu, bagi kalangan menengah pas-pasan, jangan terlalu banyak berharap disana.

Tapi jangan putus asa. Ada alternatif yang lebih menarik, yaitu studi ke negara Eropa, khususnya Jerman dan Perancis. Kenapa negara Eropa? Selain karena sebagai negara maju, kuliah di negara itu dijamin tak akan menguras biaya karena bebas biaya alias gratis, hanya ada biaya administrasi sebesar 75-250 euro/semester untuk studi di Jerman, 150-175 euro/tahun untuk studi di Prancis. Hal ini tidak hanya berlaku bagi warga negaranya, tetapi juga berlaku untuk warga pendatang sekalipun. Praktis bagi mahasiswa pendatang tinggal menanggung hidup juga tidak terlalu mahal, kurang lebih sama dengan di negara-negara lain termasuk di Indonesia. Bahkan biaya hidup selama kuliah di Jerman dan Perancis relatif lebih murah, sekitar 450-650 euro/bulan (± Rp 5 juta/bulan) bisa lebih ringan jika si mahasiswa mau mencari pekerjaan partime. Sebab tahun kedua kuliah, biasanya sudah bisa sambil kerja dan peluang kerja banyak tersedia disana.

“Melanjutkan kuliah ke luar negeri, pasti yang pertama terbayang adalah biaya mahal, sehingga belum apa-apa sudah nyerah duluan. Padahal sejatinya tak selalu demikian. Contohnya kuliah ke negara Eropa seperti Jerman atau Perancis karena semua jenjang sekolah disana gratis. Ini saya alami sendiri. Cuma sayang selama ini banyak calon mahasiswa Indonesia yang tidak mengetahui peluang ini. Padahal syaratnya juga nggak sulit, yang penting ada ijazah SLTA dan lulus tes bahasa Jerman/Prancis,” ungkap Bimo Sasongko, MSEIE, MBA, President Director and Chief Executive Officer (CEO) Euro Management Indonesia, kepada Eksekutif di kantornya baru-baru ini.

Menurut pria yang sedang menempuh program doktoral (S3) bidang Bisnis Manajemen di Universitas Indonesia (UI) ini, terdapat banyak pilihan studi yang dapat dipilih, seperti Manajemen & Bisnis (Keuangan, Akuntansi, Pemasaran, dan lain-lain), Ilmu murni (Biologi, Matematika, Fisika, Kimia, dan lain lain), Ilmu Komputer, Teknik (Industri, Penerbangan, Arsitektur, elektro, mesin), Kedokteran, Ilmu Sosial dan Politik, Sastra, Seni&Desain (fashion, musik, film, advertising), Psikologi, pendidikan, dan masih banyak program lainnya. Soal kualitas katanya, tak perlu diragukan karena Jerman dan Prancis merupakan negara maju. Perkembangan teknologi dan bisnis sangat pesat, saat ini bersaing ketat dengan negara Amerika Serikat dan Jepang. Semua peralatan dan pendidikan tersedia lengkap, sehingga lulusannya dijamin berkualitas dan memiliki wawasan global. Daya tarik lain, setelah lulus kuliah dan kembali ke tanah air, para alumni pun biasanya mendapatkan bantuan dari pemerintah Jerman caranya dengan mengajukan permohonan batuan ke Kantor Balaikota Jerman tiga bulan sebelum kepulangan mereka ke tanah air. Bantuan tersebut berupa transport dan tiket pulang, buku-buku senilai 100 Euro pertahun, gaji sebesar 200 Euro perbulan selama 12-18 bulan, dan diberikan kesempatan mengajukan bantuan peralatan kerja untuk usaha senilai sebesar 10.000 Euro.

Ia mengaku, awalnya juga tidak percaya. Ceritanya, setelah selesai mendapatkan beasiswa pendidikan S1 dan S2 di Amerika Serikat dari BPPT, pria kelahiran 4 Februari 1972 ini, berniat melanjutkan pendidikannya ke jenjang S3. Semula, ia ingin kembali ke Amerika Serikat. Namun tiba-tiba, ia mendengar informasi bahwa kuliah di Jerman gratis. Karena penasaran, ia pun mencari info lewat internet, dan Kedutaan Besar Jerman. Ternyata memang benar, biaya pendidikan di Jerman benar-benar gratis. Tanpa pikir panjang, ia langsung mengajukan aplikasi dan diterima di program MBA di Fachhochschule (University of Applied Science) Pforzheim, Jerman.

Pengalaman menyenangkan selama belajar di Jerman, membuat Bimo merasa terpanggil mensosialisasikannya kepada masyarakat Indonesia. Karena itulah, tahun 2002, ketika masih berada di Jerman, ia menyusun business plan untuk mendirikan konsultan manajemen pendidikan yang akhirnya diberi nama Euro Management Indonesia. Konsultan ini bersifat profesional yang bergerak di bidang jasa terpadu dan terintegrasi untuk membantu calon mahasiswa-mahasiswi Indonesia yang ingin melanjutkan studinya ke berbagai perguruan tinggi di negara-negara Eropa, khususnya di negara Jerman dan Prancis.

Biaya yang dibutuhkan hanya Rp 24,9 juta untuk program pengurusan studi, dimana jasa yang akan disediakan meliputi banyak hal seperti konsultasi pendidikan dan universitas di Jerman, legalisir dokumen akademik di kedutaan, psikotest, konseling psikologi, motivation building, pengurusan dokumen passport, visa studi, workshop pendidikan dan lain sebagainya. Pelatihan program bahasa pun disediakan yaitu Jerman dan Perancis. Program bahasa ini mematok harga Rp 15,9 juta untuk pelatihan bahasa Jerman/Perancis secara intensif selama 6 bulan.

Euro Management Indonesia telah berpengalaman selama 6 tahun sejak 2003 dalam memberangkatkan lebih dari 500 alumni lulusan SMA/sederajat di seluruh Indonesia, dan merupakan konsultan manajemen pendidikan di Indonesia yang paling banyak dalam sejarah mengirimkan mahasiswa ke luar negeri untuk studi khususnya ke negara Jerman dan Pesrancis.

Banyak Subsidi untuk Kuliah S1 di Perancis

Blog Lembaga Alumni Eropa kali ini akan membahas tentang kuliah S1 di Perancis. Negara-negara di Eropa terkenal dengan standar hidup yang tinggi sehingga untuk melakukan apa saja di sana pasti dikenai biaya mahal termasuk pendidikan. Namun hal itu tidak terjadi di Perancis, banyaknya subsidi dari pemerintah setempat dalam bidang pendidikan dan beberapa bantuan lainnya membuat biaya studi di negara ini cukup terjangkau.
Berikut kami cuplikan sebuah artikel dari kompas.com tentang peluang subsidi untuk kuliah S1 di Perancis. Subsidi dan bantuan lain dari pemerintah Prancis ini diperuntukkan bagi semua siswa baik siswa Prancis maupun asing. Namun untuk subsidi ini, hanya diberikan untuk anak-anak yang memilih pendidikan negeri untuk studinya.
Selama menuntut ilmu di institusi pendidikan negeri, negara yang akan mendanai biaya studi sekitar 10.000 euro per tahun untuk tiap mahasiswa tanpa terkecuali baik itu siswa Prancis maupun siswa asing untuk semua jenjang.
Adapun biaya pendaftaran studi tahunan telah ditentukan besarannya yaitu sekitar 174 euro atau Rp 2,14 juta untuk mahasiswa jenjang S1, kemudian 237 euro atau Rp 2,9 juta untuk mahasiswa S2, lalu 359 euro atau Rp 4,4 juta untuk mahasiswa S3 dan 564 euro atau Rp 6,9 juta untuk mahasiswa sekolah teknik.
Biaya studi di atas dapat bertambah untuk kasus tertentu, seperti biaya pendaftaran untuk program dalam bahasa Inggris atau biaya pendaftaran di institusi swasta terutama di sekolah bisnis yang memang biaya pendidikannya lebih tinggi.
Selain adanya bantuan pemerintah, Prancis menyediakan juga bantuan pendidikan lain seperti beasiswa Eiffel yang ditujukan untuk siswa asing melanjutkan studi jenjang master atau doktorat. Namun untuk beasiswa ini, universitas terkait yang telah menerima siswa tersebut yang berhak mengajukan beasiswa.
Sementara itu, ada juga beasiswa unggulan Diknas untuk jenjang sarjana hingga doktorat. Dengan syarat, sudah diterima terlebih dahulu di universitas di Perancis. Beasiswa ini akan menutup biaya hidup mahasiswa tiap bulannya hingga masa studi selesai.
Kemudian ada juga beasiswa dikti yaang diperuntukkan untuk dosen atau pengajar tetap di sebuah universitas baik negeri atau swasta. Terakhir, ada beasiswa Erasmus Mundus yang akan memberikan bantuan penuh baik pendidikan maupun biaya hidup selama belajar di Eropa. Jika masih ada yang akan anda tanyakan berkaitan langkah untuk kuliah S1 di Perancis, Lembaga Alumni Eropa dengan senang hati akan mencoba memberikan jawaban berdasarkan apa yang sudah kami lalui ketika di Eropa.

Persiapan Untuk Melanjutkan Studi di Perancis

Persiapan yang matang harus kita lakukan jauh-jauh hari sebelum studi kita dimulai. Bagi lulusan SMA yang ingin melanjutkan studi di Perancis sebaiknya mulai melakukan persiapan ini ketika naik ke kelas 3 atau di akhir kelas 2 SMA, jika memang tidak berminat untuk mengikuti SNMPTN dan kuliah di Indonesia.

Bahasa

Persiapan bahasa Perancis harus dan wajib dilakukan bagi calon mahasiswa Perancis walaupun program yang diambil program internasional, toh dalam kehidupan sehari-hari disana kita masih membutuhkan bahasa perancis untuk menjalankan aktivitas.
Untuk lulusa SMA yang mau kuliah ke Perancis, ujian bahasa Perancis sangat dibutuhkan sebagai syarat untuk masuk dan jadi mahasiswa di Prancis. Ujian bahasa Perancis itu namanya DELF (diplome d’etudes en langue francaise) ujian delf mempunyai beberapa tingkatan yaitu A1, A2, B1, B2, C1, C2. Tapi yang dibutuhkan untuk bisa lolos keterima itu minimal harus Delf B2.

Paspor

Paspor itu berlaku sebagai kartu identitas kita yang berlingkup internasional, yang mutlak harus dan wajib kita miliki ketika mau keluar negeri. Pengurusan paspor dilakukan di kantor imigrasi Indonesia. Pengurusan paspor yang normal memakan waktu 1-2 minggu,
Prosedur pembuatan paspor tidak repot kok asalkan semua persyaratan kita lengkapi. Dokumen yang dibutuhkan itu:
1. Kartu tanda penduduk (KTP) dan kartu keluarga (KK)
2. Ijazah terakhir
3. Dokument pendukung lainnya

Visa

Visa yang digunakan untuk kuliah di Perancis adalah visa jangka panjang.